Opini Perjalanan

by - 18:51

     Seminggu kemarin, dengan niat awal untuk mengikuti sebuah kelas digital saya mengulang kembali perjalanan saya menuju kota denpasar, yang sebelumnya saya pernah kesasar ketika hendak kembali ke singaraja dengan modal feeling doang ! hehe..


    Tidak jarang pengalaman tersebut membuat orang mengatakan saya terlalu berani, terlalu nekad dengan segala yang ingin saya lakukan, bahkan membuat orang tertawa terpingkal – pingkal dengan hanya mendengarnya saja. Tentang perjalanan kemarin aku akan bercerita.

   Kiranya tanggal 10 Agustus Kemarin saya berangkat dari singaraja menuju denpasar, jarak dengan  rute tercepat singaraja-denpasar sekitar 2 jam kurang dan lebih tergantung kecepatanmu. Jam setengah satu saya saat itu sampai di mengwi karena sempat kehujanan di wanagiri dan berteduh sejenak di bawah tenda display motor H*nda bersama seorang pengantar barang. Setelah merasa cukup berkebas kebas tangan dan peregangan saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pasar kumba sari, pasar kumbasari ini pasar seni yang cukup terkenal di Bali. 

   Sesampainya di sana saya menuju lantai 3 di mana kios bude saya berada 1 tante, lebih tepatnya saya berada di Shvan Art Shop nama usaha milik Bude Saya, tiap harinya selalu ada bule yang datang, baik itu hanya lewat atau melihat – lihat dan akhirnya membeli, jujur saja saya sedikit grogi, saya takut jika saya menggunakan jilbab akan membuat para bule berpandangan bahwa saya seorang teroris dan lagi saya takut membuat kios bude saya sepi dengan bule. But ternyata saya salah, bule ternyata kurang peduli dengan hal yang saya pribadi khawatirkan, tidak semua bule seperti itu, pernah datang sepasang suami istri yang Bule, mereka berkeliling di sekitar kios bude saya, namun mungkin karena mereka mengerti dan merasa tidak nyaman dengan harga tinggi yang di tawarkan, bude saya langsung datang dan mencoba menawarkan dan memberi mereka kartu nama, kemudian sepasang suami istri itu pun pergi..

   Beberapa hari kemudian bude mendapat pesan melalui whatsapp, yang mengajaknya untuk bertemu untuk keperluan bisnis, yang tenyata adalah ajakan dari bule yang waktu itu datang ke kios. Rasanya sangat senang mendengarnya bahwa bude saya kembali mendapat customer, hari itu juga sekitar 100 kipas batik ukuran besar ludes terbeli dan si bule meminta untuk bertemu sekalian mengantarkan pesanannya, alhasil sepulang menjaga toko kami pergi menuju Hotel Coast di Sanur, ini mungkin pertama kalinya saya masuk ke sebuah hotel mewah, bersih dan sangat nyaman. Identik dengan warna putih dan biru yang sangat menentramkan hati. Silang beberapa waktu bule yang kami tunggu pun datang dan menyuruh kami untuk masuk kedalam kamar hotel mereka., sangat bagus, saya terkagum – kagum dibuatnya, awalnya si bule sempat membawakan kami sebuah minuman, namun ketika melihat ke arah saya mereka mengatakan “ Oh ya, Tidak Boleh “ * dalam bahasa inggris, saya pun tersenyum dan dia kembali menuju Kulkas dan memberikan kami Jus Kotak Jeruk.

    Transaksi di selingi percakapan berjalan dengan asyik dan nyaman antara bude dan sepasang suami istri bule tersebut. Mereka banyak bercakap cakap  dan saya terdiam cukup lama sambil tersenyum ketika mengerti beberapa percakapan mereka, oh.. ya ternyata sepasang suami istri bule ini berasal dari Argentina, mereka datang ke indonesia untuk membeli Barang Barang Lokal, awalnya saya kira mereka membeli barang barang yang unik, mungkin seperti patung atau apalah itu. Namun di luar dugaan. Yang mereka beli ternyata adalah topi tani, saya sangat terperanjat, kaget.. sekaligus bertanya – tanya. “ kenapa ?” , mereka pun menjelaskan mengapa membeli, mereka menjawab “ saya suka, produk ini sangat bagus untuk melindungi kepala saya ketika di musim panas di negara saya “ saat itu otak saya berfikir, bule saja sangat menghargai buatan lokal penganyam topi tani ini, tapi malah bangsa ini sendiri merasa malu hanya karena notabenenya topi ini topi petani, rasanya saya seperti tertampar karena kurang peduli dengan karya bangsa sendiri. Tak hanya itu si bule juga mengajak kami berdiskusi banyak hal, salah satu nya kata stella ketika mengetahui nama usaha bude saya itu menggabungkan nama bude dan nama suami, dan stella mengatakan bahwa hal itu tidak lazim di lakukan di negaranya, menyematkan nama suami di dalam nama,  stella mengatakan itu tidak boleh karena tidak menghargai Ayah, seharusnya nama ayah yang di sematkan kedalam nama bukan nama suami, sebenarnya tentang ini saya pernah mendengarnya. Dan saya sangat senang ternyata tidak semua orang luar acuh dengan orang tuanya, saat itu juga saya sangat kangen dengan Ummi dan Abi saya di Singaraja.  Tidak hanya itu, Alex mengatakan saya terlihat bagus menggunakan jilbab dan mengatakan bahwa jilbab bukan tanda teroris,  padahal mereka berbeda keyakinan dengan saya, saya sangat terharu dengan cara mereka memperlakukan kami yang bahkan berbeda bangsa dengan kami.

   Transaksi pun selesai, kami berpamitan untuk pulang dan stella mengantarkan kami sampai di gerbang. Dan kembali kami harus bermacet – macetan ria di Jalan keluar dari Pantai Sanur. Cukup melelahkan dan saya saya senang karena bisa berkesempatan mengetahui cara berbisnis dengan Bule.
Tanggal 14 kemarin saya mengharuskan diri untuk berpamitan, karena ada urusan kuliah yang belum saya selesaikan dan mengharuskan saya cepat mengurusnya. Di sepanjang perjalanan saya merasa seperti menjadi orang baru di setiap perjalanan, menjadi orang bodoh yang siap belajar di tempat baru, dengan orang – orang baru, saya juga merasa beruntung di perjalanan karena banyak melihat bagaimana kondisi sosial di kota besar contohnya denpasar, merasa bersyukur bahwa saya masih mempunyai keluarga, mempunyai saudara yang peduli dengan saya, mempunyai rumah sehingga saya tidak perlu untuk tidur di emperan ataupun halte toko, kemudian saya di beri anggota badan yang sehat sehingga saya tidak perlu menggunakan tongkat ataupun kursi roda untuk beraktivitas. Saya pun bersyukur karena masih bisa meminta uang kepada Abi untuk beberapa keperluan sehingga tidak perlu mengangkat barang atau menjual jasa payung seperti anak anak kecil di pasar itu,, di perjalanan saya sangat merasa bersyukur atas segalanya dan saya pun bertekad untuk mendatangi kota kota lain dan berbaur sehingga mendapatkan setiap pelajaran dari sebuah perjalanan.

mbkfah 
Denpasar, 14 Agustus 2018 

berhasil menghilangkan ketakutan tersesat pulang dari denpasar, satu goal sebelum umur 20 tahun tercapai. !! 😋😋😋😋


You May Also Like

0 komentar